AHLI WARIS YANG TIDAK TERHALANG

A. Ahli Waris yang tidak Terhalang menurut KUH Perdata
Pewaris adalah seseorang yang meninggal dunia, baik laki-laki maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta kekayaan maupun hak-hak yang diperoleh beserta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan selama hidupnya, baik dengan surat wasiat maupun tanpa surat wasiat.
Dasar hukum seseorang ahli waris mewarisi sejumlah harta pewaris menurut sisten hukum waris BW ada dua cara, yaitu:
a. menurut ketentuan undang-undang;
b. ditunjuk dalam surat wasiat (testamen).
Undang-undang telah menentukan bahwa untuk melanjutkan kedudukan hukum seseorang yang meninggal, sedapat mungkin disesuaikan dengan kehendak dari orang yang meninggal itu. Undang-undang berprinsip bahwa seseorang bebas untuk menentukan kehendaknya tentang harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia.
Akan tetapi apabila ternyata seorang tidak menentukan sendiri ketika ia hidup tentang apa yang akan terjadi terhadap harta kekayaannya maka dalam hal demikian undang-undang kembali akan menentukan perihal pengaturan harta yang ditinggalkan seseorang tersebut.
Undang-undang telah menetapkan tertib keluarga yang menjadi ahli waris, yaitu: Isteri atau suami yang ditinggalkan dan keluarga sah atau tidak sah dari pewaris. Ahli waris menurut undang undang atau ahli waris ab intestato berdasarkan hubungan darah terdapat empat golongan, yaitu:
a. Golongan pertama, keluarga dalam garis lurus ke bawah, meliputi anak-anak beserta keturunan mereka beserta suami atau isteri yang ditinggalkan / atau yang hidup paling lama. Suami atau isteri yang ditinggalkan / hidup paling lama ini baru diakui sebagai ahli waris pada tahun 1935, sedangkan sebelumnya suami / isteri tidak saling mewarisi;
b. Golongan kedua, keluarga dalam garis lurus ke atas, meliputi orang tua dan saudara, baik laki-laki maupun perempuan, serta keturunan mereka. Bagi orang tua ada peraturan khusus yang menjamin bahwa bagian mereka tidak akan kurang dari ¼ (seperempat) bagian dari harta peninggalan, walaupun mereka mewaris bersamasama saudara pewaris;
c. Golongan ketiga, meliputi kakek, nenek, dan leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris;
d. Golongan keempat, meliputi anggota keluarga dalam garis ke samping dan sanak keluarga lainnya sampai derajat keenam.
Undang-undang tidak membedakan ahli waris laki-laki dan perempuan, juga tidak membedakan urutan kelahiran, hanya ada ketentuan bahwa ahli waris golongan pertama jika masih ada maka akan menutup hak anggota keluarga lainnya dalam dalam garis lurus ke atas maupun ke samping. Demikian pula golongan yang lebih tinggiderajatnya menutup yang lebih rendah derajatnya.
B. Ahli Waris yang tidak Terhalang menurut Hukum Islam
Dalam hukum islam ahli waris yang tidak pernah terhalng disebut dengan kerabat Utama. Kerabat utama terdiri dari ibu, bapak, janda/duda, anak perempuan dan anak laki-laki. Pihak;pihak ini mempunyai tingkat prioritas yang sama sebagai ahli waris. Artinya, keberadaan salah satu di antara mereka tidak menutup hak yang lainnya. Kalaupun ada, itu hanya sebatas mengurangi hak pihak tertentu sebagai akibat munculnya hak bagi pihak lainnya.
Adapun uraian tentang bagian waris para ahli waris utama adalah sebagai berikut:
a. Janda / Duda
Di daam hukum waris islam, bagian waris untuk duda dengan janda tidak sama, yaitu sebagai berikut :
1. Janda
Bagian janda adalah:
– 1/8 bagian jika pewaris mempunyai anak.
– ¼ bagian jika pewaris tidak mempunyai anak.
Dasar hukumnya adalah sebagai berikut.
….jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan….(QS. An-Nisa’ [4]: 12)
….para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak….(QS. An-Nisa’ [4]: 12)
2. Duda
Bagian duda adalah:
a) ¼ bagian jika pewaris mempunyai anak.
b) ½ bagian jika pewaris tidak mempunyai anak.
Dasar hukumnya adalah:
…jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang di tinggalkannya….(QS. An-Nisa’ [4]: 12)
Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka mempunyai anak….(QS. An-Nisa’ [4]: 12)
b. Ibu
Bagian ibu adalah:
a. 1/6 bagian jika pewaris mempunyai anak
b. 1/6 bagian jika pewaris mempunyai beberapa saudara
c. 1/3 bagian jika pewaris tidak mempunyai anak.
Dasar hukumnya adalah sebagai berikut:
…dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)
…jika yang meninggal itu mempunayi beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)
…jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)

c. Bapak
Bagian bapak adalah:
a. 1/6 bagian jika pewaris mempunya anak
b. 1/6 bagian + sisa jika pewaris hanya mempunyai anak perempuan.
c. Sisa jika tidak mempunyai anak.
Dasar hukumnya adalah sebagai berikut:
… dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)
…jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)
d. Anak perempuan
Bagian anak perempuan adalah
a. ½ bagian jika seorang
b. 2/3 bagian jika beberapa orang
c. Masing-masing 1 bagian dari sisa jika mereka mewaris bersama anak laki-laki. Dalam hal ini, kedudukan anak perempuan adalah ashabah bil-ghair.
Dasar hukumnya sebagai berikut:
…jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)
…dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)
…bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)
e. Anak laki-laki
Bagian anak laki-laki adalah:
a. Masing-masing 1 bagian dari sisa jika mereka mewaris brsama dengan anak laki-laki lainnya. Dalam hal ini, kedudukan anak laki-laki adalah ashabah binnafsih.
b. Masing-masing dua bagian dari sisa jika mereka mewaris bersama anak perempuan. Dlam hal ini, kedudukan anak perempuan adalah sebagai ashabah bil-ghair.
Dasar hukumnya adalah:
…bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan….(QS. An-Nisa’ [4]: 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s